Kenapa Tidak Menggunakan Rumus Cepat


Alhamduillah setelah sekian lama tidak membuat tulisan di blog, akhirnya ada waktu dan semangat menulis lagi. Pada tulisan kali ini, saya tidak membuat tulisan tentang materi matematika. Saya akan meng-share pengalaman saya selama ini. Keseharian saya sebenarnya adalah mengajar les untuk murid-murid SMP dan SMA. Tapi jangan berpikiran bahwa saya mengajar seperti di sekolah ya. Saya selama ini hanya mendampingi murid yang les.

Selama ini, yang selalu jadi pertanyaan dari para murid adalah bahwa mereka selalu menanyakan terkait RUMUS CEPAT ketika mengerjakan soal. Ketika pertanyaan muncul, saya selalu mengatakan

jangan pernah berpatokan pada rumus cepat, karena rumus itu tidak selalu bisa digunakan. Selain itu, ketika kalian menggunakan rumus cepat, itu hanya berlaku untuk beberapa kasus saja.”

jangan pernah langsung menanyakan cara mengerjakan suatu soal jika kalian belum pernah mencoba. Cobalah latih pikiran dan tanganmu untuk menemukan ide penyelesaiannya

Setiap punya murid baru, saya selalu tanamkan pernyataan itu. Bukan dengan tujuan hampa, tapi tujuan dari pernyataan saya itu adalah,

  1. saya ingin murid-murid yang saya bimbing tersebut memiliki analisa soal yang tajam,
  2. kemudian ketika mereka mengulang materinya (setelah beberapa bulan kedepan) mereka masih bisa mengingat “jalan ceritanya”
  3. ketika menemukan soal yang sudah dikembangkan, saya harapkan mereka bisa menerkan-nerkan jalan ceritanya.

Alhamdulillah dari “doktrin” yang saya lakukan kepada murid les, memiliki perkembangan yang luar biasa (menurut saya). Salah satu murid saya adalah Hafiz, dia alumni SMA 1 Mataram (SMANSA Mataram). Pada dasarnya Hafiz ini memang anak yang pintar dan semangatnya luar biasa. Alhamdulillah sekarang dia sebagai salah satu mahasiswa ITB melalui SBMPTN.

Murid saya yang kedua adalah Hadyan, dia siswa MAN 2 Mataram. Hadyan ini adalah murid les saya yang paling uniq. Dia memiliki perkembangan yang luar biasa. Pertama kali ketemu ketika dia kelas 3 SMP untuk membimbing Ujian Nasional. Kalau saya boleh nilai, kemampuan matematikanya berkisar 7 dari 10. Dan setelah UN, ternyata dugaan saya benar, hasil UN nya berkisar 7.

Setelah menduduki bangku SMA, saya membimbing dia lagi. Dengan “doktrin” tersebut dan semangat baru untuk belajar matematika. Alhadulillah analisa dan kemandirian untuk mengerjakan soal semakin bagus. Dan semua tersebut terlihat dari Ulangan Harian, UTS dan UAS. Bahkan ketika mengikut UTBK sesi pertama, dia mendapatkan nilai 700 untuk matematikanya.

Mungkin akan ada yang bertanya “apakah apa saya lakukan itu berhasil untuk semua murid les saya?”. Jawaban saya (sementara) adalah tidak bisa diterapkan ke semua murid. Hal ini bergantung pada semangat anaknya untuk belajar. Jika tidak dibarengi dengan semangat belajar matematika yang tinggi, “doktrin” saya ini kemungkinan tidak berlaku.

Tulisan ini hanya pendapat pribadi, tanpa ada studi dan literature. Jika ada pengalaman kalian lain, bias di-share juga. Terimakasih banyak sudah menyempatkan baca tulisan saya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s